Pada suatu malam, saya mimpi bertemu dengan si marshmallow. Di mimpi itu, saya dan dia datang ke semacam acara gereja yang ramai sekali. Saya duduk di barisan kursi di belakangnya, dia duduk tepat di depan saya, bersama kekasihnya. Lagi-lagi saya hanya bisa memandangi punggungnya.. Saya menangis.
Siangnya, saya dan teman-teman pergi ke bioskop menonton film bertemakan gender yang baru saja dirilis. Tidak lebih dari setengah jam setelah film dimulai, saya tertegun. Salah satu pemerannya ada yang mirip marshmallow. Wajahnya, suaranya, sifatnya. Mirip sekali. Di dalam kegelapan ruang teater yang kecil, saya menitikan air mata. Saya menangis lagi.
Keesokan harinya saya tidak sengaja bertemu dengan seorang teman lama, yang dulu juga sempat suka dengan marshmallow. Setelah berbasa-basi tentang kondisi masing-masing, dia mengabarkan bahwa pujaan hati kami sedang berada dalam suatu hubungan dengan seorang perempuan, cina. Saya sudah tahu. Tapi dia baru tahu, kalau saya sudah tahu. Dengan paras kaget, dia pun bertanya, “Lo masih suka, tin?” “Iya.” “Move on, dong. Banyak kali cowo di sini.” Seperti sudah lelah dengan nasehat itu, saya pun menjawab, “Ga bisa, gue maunya dia.” Setelah percakapan singkat dengannya, saya pergi, sambil menangis. Lagi.