525600 Minutes

Five hundred twenty-five thousand
Six hundred minutes,
Five hundred twenty-five thousand
Moments so dear.
Five hundred twenty-five thousand
Six hundred minutes
How do you measure, measure a year?

In daylights, in sunsets, in midnights
In cups of coffee
In inches, in miles, in laughter, in strife.

In five hundred twenty-five thousand
Six hundred minutes
How do you measure
A year in the life?

How about love?
How about love?
How about love? Measure in love

Seasons of love. Seasons of love

Five hundred twenty-five thousand
Six hundred minutes!
Five hundred twenty-five thousand
Journeys to plan.

Five hundred twenty-five thousand
Six hundred minutes
How do you measure the life
Of a woman or a man?

In truths that she learned,
Or in times that he cried.
In bridges he burned,
Or the way that she died.

It’s time now to sing out,
Tho’ the story never ends
Let’s celebrate
Remember a year in the life of friends
Remember the love!
Remember the love!
Seasons of love!

Oh you got to got to
Remember the love!
You know that love is a gift from up above
Share love, give love spread love
Measure measure your life in love.

 

(Seasons of Love, from RENT the movie)

Hal Kekuatiran

Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pakaian?

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.

Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

-Matius 6:25-34

Kenapa ya..

Kenapa ya masalah kok datang terus, tidak ada habisnya. Baru saja menyelesaikan satu masalah, sekarang datang lagi yang lainnya. Ga bosan kali ya ketemu saya melulu? Saya saja bosan.

Marshmallow

Marshmallow.. Itu sebutan yang saya gunakan untuk memanggil orang yang sering diceritakan disini, yang sering bikin saya galau itu loh hahaha.

Panggilan itu berawal ketika 5 tahun yang lalu dia berulang tahun. Karena tidak bisa memberikan ucapan selamat secara langsung, saya mengirim ecard ke dia. Isinya hanya gambar animasi sederhana: katak lompat keluar dari tabung kaca, sambil membuka confetti yang lalu diikuti oleh tulisan ‘happy birthday’ di background-nya… Oke, katak memang bukan hal yang lucu apalagi romantis untuk mengucapkan selamat ke orang yang spesial. Itu bodoh-bodohnya saya aja.

Anyway, ecard itu kemudian saya kirim ke email dia. Nah, ketika mengirim ecard ini saya menggunakan email yang di namanya ada kata ‘marshmallow’. Alamat email lengkapnya ga bisa saya tulis disini, takutnya dia masih penasaran dan ngegugel email itu dan nemu blog ini, mampus gue kalo sampe ketauan. <—- ngarep parah kikikikik.

Sebenarnya saat membuat email itu saya random aja memilih namanya. Ngasal, lebih tepatnya. Yang penting kelihatan unyu deh. Tetapi setelah belajar dari wikipedia, saya baru tahu kalau jaman dulu marshmallow digunakan untuk mengobati luka memar, kehilangan darah, sakit gigi, iritasi, diare, gigitan serangga dan lain-lain dan lain-lain. Wah, ternyata obat serbaguna toh. Pas sekali dengan karakteristik dia hahaha.

Jadi begitulah asal muasal panggilan tersebut. 

End.

Eh, tapi tapi ya, mungkin aja ada orang yang pengen tau nih dengan kelanjutan cerita tadi dan bertanya-tanya: apakah email itu berhasil selamat sampai tujuan si penerima? Bagaimana respon penerima? Apakah penerima senang? Apakah akhirnya saya dan penerima jadian?  (haha ini paling ga mungkin). Karena saya lagi baik dan lagi ga ada kerjaan, dan kebetulan juga lagi pengen nostalgia, dilanjutin deh ceritanya :D

Jadi kan saya ngirim emailnya tanpa nama tuh. Nama sendernya saya tulis apa gitu, lupa, pokoknya sesuatu yang sejenis kata ‘anonim’ lah atau apalah. Satu hari setelah terkirim, saya dapat email balasan. Katanya kira-kira begini,

“Thanks but who are you? Gimana kalau kita main hang man aja. Kamu sebutin clue-nya, aku tebak.”

*melted*

Saya ga  berani balas.. Bingung juga mau balas apa. Haha bodoh ya. Tolol banget. Usaha kok setengah-setengah.

Yasudah, jadi begitulah akhir ceritanya. Sedih ya. Ga seperti cerita di komik-komik serial cantik haha.

*brb nangis*

Lagi

Pada suatu malam, saya mimpi bertemu dengan si marshmallow. Di mimpi itu, saya dan dia datang ke semacam acara gereja yang ramai sekali. Saya duduk di barisan kursi di belakangnya, dia duduk tepat di depan saya, bersama kekasihnya. Lagi-lagi saya hanya bisa memandangi punggungnya.. Saya menangis.

Siangnya, saya dan teman-teman pergi ke bioskop menonton film bertemakan gender yang baru saja dirilis. Tidak lebih dari setengah jam setelah film dimulai, saya tertegun. Salah satu pemerannya ada yang mirip marshmallow. Wajahnya, suaranya, sifatnya. Mirip sekali. Di dalam kegelapan ruang teater yang kecil, saya menitikan air mata. Saya menangis lagi.

Keesokan harinya saya tidak sengaja bertemu dengan seorang teman lama, yang dulu juga sempat suka dengan marshmallow. Setelah berbasa-basi tentang kondisi masing-masing, dia mengabarkan bahwa pujaan hati kami sedang berada dalam suatu hubungan dengan seorang perempuan, cina. Saya sudah tahu. Tapi dia baru tahu, kalau saya sudah tahu. Dengan paras kaget, dia pun bertanya, “Lo masih suka, tin?” “Iya.” “Move on, dong. Banyak kali cowo di sini.” Seperti sudah lelah dengan nasehat itu, saya pun menjawab, “Ga bisa, gue maunya dia.” Setelah percakapan singkat dengannya, saya pergi, sambil menangis. Lagi.

Hanya Hembusan Nafas

“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?

Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.

Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dini hari.

Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah.

Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.

Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas; mataku tidak akan lagi melihat yang baik. Orang yang memandang aku, tidak akan melihat aku lagi, sementara Engkau memandang aku, aku tidak ada lagi.

Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.

Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku.

Apakah aku ini laut atau naga, sehingga Engkau menempatkan penjaga terhadap aku?

Apabila aku berpikir: Tempat tidurku akan memberi aku penghiburan dan tempat pembaringanku akan meringankan keluh kesahku, maka Engkau mengagetkan aku dengan impian dan mengejutkan aku dengan khayal, sehingga aku lebih suka dicekik dan mati dari pada menanggung kesusahanku.

Aku jemu, aku tidak mau hidup selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja.

Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kau anggap agung dan Kau perhatikan dan Kau datangi setiap pagi dan Kau uji setiap saat? Bilakah Engkau mengalihkan pandangan-Mu dari padaku dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?

Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? Dan mengapa Engkau tidak mengampuni pelanggaranku dan tidak menghapuskan kesalahanku?

Karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi.”

(Ayub 7: 1-21)

Gloomy Sunday

Semenjak menonton Dancer in The Dark, tiada jenuhnya saya mendengarkan suara Bjork yang unik. Salah satu lagu yang saya suka sekarang adalah Gloomy Sunday. Ini bukan lagu asli Bjork, melainkan lagu asal Hungaria yang disebut-sebut sebagai lagu kematian. Konyol memang melihat orang-orang terus berkonspirasi mencocokan lirik lagu ini dengan tragedi-tragedi yang bermunculan saat lagu ini dirilis di Eropa. Tapi peduli setan dengan cerita horor yang dibuat oleh mereka dibalik lagu ini.

Saya suka Gloomy Sunday karena liriknya memiliki ikatan emosional dengan pengalaman hidup saya. Ya, kurang lebih..

Little white flowers will never awaken you
Not where the black coach of sorrow has taken you
Angels have no thought of ever returning you
Would they be angry if I thought of joining you
Gloomy Sunday

Sebagai himne untuk bunuh diri, lirik ini tidak menggambarkan sama sekali hal yang menyeramkan tentang kematian. Pesan yang saya tangkap justru seperti, ada kebahagiaan menanti setelah mati.

Soon there’ll be flowers and prayers that are sad,
I know, let them not weep,
Let them know that I’m glad to go

Death is no dream,
For in death I’m caressing you
With the last breath of my soul I’ll be blessing you

Sayangnya penggubah lirik lagu ini memutuskan untuk memperbaiki ending-nya dengan menyatakan bahwa semua hanya mimpi. Perubahan yang klise ini dikarenakan banyaknya korban bunuh diri setelah mendengar lagu aslinya yang berbahasa Hungaria.

Dreaming
I was only dreaming
I wake and I find you asleep in the deep of my heart
Dear

Darling I hope that my dream never haunted you
My heart is telling you how much I wanted you
Gloomy Sunday

Terlepas dari liriknya yang kelam namun indah, saya suka sekali dengan cara Bjork membawakan lagu ini :)

Thanks God, ada sesuatu yang namanya Windows Live Writer. WordPress lagi menyebalkan sekali seminggu ini. Mau lihat dashboard, ganti tema, buat tulisan baru, dan bahkan berkunjung ke blog lain saja lamanya luar biasa. Tidak tahu apa dia, kalau tempat ini sudah jadi hidup saya.

Kecewa

Semalam memimpikan mama, lagi..

Ketika sedang menangis histeris sambil meneriakkan namanya, tentu di dalam mimpi, tiba-tiba beliau muncul. Rambutnya terlihat sama, tetap sebahu, lurus hitam legam. Tubuhnya tetap tinggi besar, seperti yang selama ini saya ingat. Pakaiannya tidak berwarna putih, seperti yang diceriterakan orang mengenai sosok hantu, melainkan berwarna cokelat, batik. Bahkan di dalam mimpi pun citranya sebagai guru tetap tidak terhapuskan, pikir saya. Suara mama pun tetap sama, alto. Sel abu-abu di kepala ini sudah nyaris lupa bagaimana rupa dan suaranya. Tetapi syukurlah penampilannya tetap sama sehingga saya tetap bisa mengenalinya.

Sedihnya, ia tetap sama, tetapi saya tidak. Mungkin itu sebabnya beliau jadi terlihat kecewa dan marah-marah di dalam mimpi saya kemarin malam. Ia tetap sosok yang sabar dan tangguh. Sementara saya kini menjadi lemah dan tidak sabaran. Meskipun marah, ia tetap seorang yang pemaaf. Ia masih bisa memberikan senyum. Sementara saya, tersenyum? Bagaimana mungkin. Memaafkan diri saja tidak bisa.

Mungkin itu sebabnya…

Mungkin itu sebabnya beliau kecewa. Dan mungkin itu sebabnya, saat ini saya kecewa.

Maaf mama.

Yesterday

I just cant believe your gone
still waiting for morning to come
when I see if the sun will rise,
in the way that you’re by my side

well we got so much in store
tell me what is it I’m reaching for
when were through building memories
I’ll hold yesterday in my heart
in my heart

they can take tomorrow and the plans we made
they can take the music that we never play
all the broken dreams, take everything
just take it away, but they can never have yesterday

they can take the future that we’ll never know
they can take the places that we said we will go
all the broken dreams take everything
just take it away, but they can never have yesterday

you always choose to stay
I should be thankful for everyday
heaven knows what the future holds,
or least where the story goes
I never believed untill now

I know I’ll see you again I’m sure
no its not selfish to ask for more
one more night one more day
one more smile on your face
but they can’t take yesterday

they can take tomorrow and the plans we made
they can take the music that we never play
all the broken dreams take everything
just take it away, but they can never have yesterday

they can take the future that we’ll never know
they can take the places that we said we will go
all the broken dreams take everything
just take it away, but they can never have yesterday

I thought our days would last forever
but it wasn’t our destiny
cause in my mind we had so much time,
but i was so wrong
no i can believe that I can still find the strength
in the moments we made
I’m looking back on yesterday

(Leona Lewis – Yesterday)